Photobucket
ABOUT MUVI PRODUCT MUVI STRENGTH BASED ORGANIZATION MITRA MUVI MUVI LEADERSHIP

MUVI LEARNING CENTER's Fan Box

Berkomunikasi Efektif Dengan Anak

Bagaimana saya harus mengatakan tentang hal itu? Kapankah saya harus berbicara?
Dalam berkomunikasi, momentum dan isi pembicaraan (content) adalah dua hal yang sangat penting. Pembicaraan anda menjadi bermakna jika anda menguasai topik
pembicaraan dan mejadi lawan bicara yang seimbang untuk anak anda.



‘Seimbang’ di sini mengandung pengertian untuk menyamakan persepsi dengan anak supaya tidak ada kerancuan asumsi. Hal ini penting karena penelitian di Jakarta menemukan adanya kesenggangan pendapat antara anak dan orangtua.

Sebagian besar anak mengaku orangtuanya tidak memberi informasi yang cukup tentang rokok,alcohol dan narkoba, sementara orangtua dari kelompok anak yang sama mengaku telah memberi informasi tersebut. Di manakah letak miskomunikasi ini?

Orangtua bisa saja merasa telah memberi informasi, akan tetapi jika informasi itu disampaikan pada saat yang kurang tepat, perhatian anak mungkin tidak ada. Atau mungkin saja cara penyampaiannya yang tidak nyambung dengan persepi dan asumsi anak.

Atau gaya bahasa anda yang tidak mengerti anak?

Oleh karena itu, momentum menjadi sangat penting di kala anda ingin memberikan pengertian tentang suatu hal yang anda anggap penting. Komunikasi yang terjadi dimomentum yang tepat akan membawa kesan mendalam dan membawa dampak tertentu dalam hidup anak.

Setiap saat dapat menjadi momentum yang baik untuk berkomunikasi dengan anak anda ketika:
- Bersenang-senang. Ingatkan anak untuk bersyukur.
- Berdiskusi tentang buku atau film-film terbaru dengan anak anda.
- Melakukan tugas rumah tangga sehari-hari bersama-sama.
- Makan malam bersama dengan keluarga. Pergi bersama: memancing, menonton
pertandingan bola atau piknik.
- Aktivitas bersama: mendengarkan musik, membaca, memasak dan menyanyi.

Untuk dapat berkomunikasi efektif, ada tiga hal yang perlu dilakukan orangtua yaitu:

1.Ambil waktu untuk mendengar (Make time to listen)
“Make time” ini bersifat kata kerja aktif yang perlu suatu usaha khusus untuk mengadakan waktu, terutama di tengah sibuknya para orangtua dalam pekerjaannya dan anak dalam sekolah dan kegiatannya. Waktu memang perlu ‘diadakan’ atau dibuat menjadi ada’. Ini berarti menjadi prioritas.

Orangtua mengerti betapa pentingnya mendengarkan anak sehingga tentunya mereka akan memprioritaskan hal ini dan mencoba menjadikannya sebuah kebiasaan.

Setelah waktu telah disediakan, manfaatkan waktu tersebut secara efektif dengan cara menjadi pendengar yang baik bagi anak. Sedapat-dapatnya kurangi untuk mengatakan ‘Tunggu dulu,” atau “Jangan sekarang.” Alihkan semua perhatian anda pada anak ketika dia bicara, dengan demikian dia akan tahu bahwa anda memerhatikannya dan ia pun akan merasa dihargai.

R.O.L.E.S adalah beberapa teknik dasar keterampilan yang dapat membantu orangtua
menjadi pendengar yang baik.

REAFFIRM and RESPECT

Pastikan bahwa anda menghargai dan mengerti pendapat anak. Dengan demikian anak akan merasa dihormati dan mendapatkan dignity-nya sebagai seorang manusia.

OPENNESS

Keterbukaan akan memberi mereka rasa aman bahwa anda sungguh-sungguh peduli dan berusaha untuk mengerti konteks dari situasi yang dihadapinya. Gunakan pertanyaan terbuka, yaitu pertanyaan yang harus dijawab dengan penjelasan atau cerita (contoh: “Bagaimana perasaan kamu saat ini?”)dan hindari pertanyaan tertutup dengan jawaban ya atau tidak (contoh: “Kamu jadi sedih dong?”).

Hindari pernyataan dan pertanyaan yang bersifat menuduh. Jika anda curiga anak telah menggunakan narkoba, cari tahu mengapa terlebih dahulu daripada sibuk memaparkan bahwa tindakan mereka itu salah.

LISTEN ATTENTIVELY
Adakah waktu khusus untuk mendengarkan anak anda di mana tidak ada kesibukan atau urusan lain sehingga ia memang penting di mata anda. Yakinkan anak kalau anda ingin menolongnya dan jangan bersikap sok tahu atau terkesan ‘menghakimi’.

Perlu sesekali memperjelas maksud kalimat anak anda supaya tidak ada salah persepsi dan asumsi dengan berkata: “Mama kurang mengerti apa yang kamu bicarakan, maksud kamu…?”

EMPATHY

Mencoba memahami dari sudut pandang anak tapi tidak untuk merestui perbuatannya.
Acknowledge perasaan anak dan sulitnya kondisi tersebut. Katakan anda juga akan sulit menentukan sikap dalam situasi di mana anak anda berada, ini memberikan kesan anda juga manusia ‘biasa’ yang tidak kebal masalah.

Sesekali ‘ringankan’ suasana dengan humor atau cerita ringan pada saat anda dulu remaja, apa yang anda lakukan pada saat anda seumur anak anda. Ini memberikan cermin dan gambaran yang lebih nyata untuk anak anda.

SIT SQUARELY

Teknik duduk ini penting karena akan membangun suasana nonverbal. Para konselor berpendapat duduk berhadapan muka dengan muka sangat ideal untuk mengobservasi bahasa tubuh dan ekspresi anak saat ia bercerita.

1. Sentuhan tangan, pelukan, dan kontak mata sangat penting untuk reaffirm atau mempertegas keberadaan anda untuk dia, tulusnya perhatian anda padanya dan kesiapan anda untuk menolongnya.

2.Luangkan waktu untuk berbicara (Take time to talk)
Luangkan waktu untuk berbicara tentang masalah atau tantangan yang anak hadapi setiap harinya baik di sekolah maupun di pergaulannya. Teknik berbicara kepada anak dapat dilakukan dengan cara: verbal dan nonverbal.

Berbicara secara verbal adalah momen di mana anda dan anak anda berdialog atau bercengkerama atau ngobrol berbagai hal. Sambutlah semua pertanyaan yang anak anda ajukan dengan jawaban yang rasional dan bijaksana.

Dalam komunikasi verbal, ada dua hal yang perlu orangtua ingat:
Hargai pendapat anak anda. Mulai dengan menanyakan hal-hal yang sederhana seperti menu makan malam atau jalan-jalan ke mana. Bukan saja hal ini dapat membiasakan mereka mengemukakan pendapat, lebih lagi, mereka juga merasa mengambil bagian dalam keputusan keluarga. Anak akan merasa pendapat mereka berharga di mata anda. Seperti disebutkan di bagian depan buku ini, para ahli psikologi pecaya bahwa tumbuhnya sense of worthiness berawal dari hal-hal kecil dan rasa berharga inilah yang membuat anak tumbuh dengan mantap.

Pertimbangkan perasaan anak anda. Hal-hal yang remeh bagi anda mungkin penting bagi mereka. Ketika anak bereaksi berlebihan atau konyol terhadap suatu hal, jangan remehkan hal itu. Anda perlu menggali akar dari tingkah laku tersebut yang mungkin saja berawal dari harapan atau hasrat mereka yang tidak terpenuhi.

Ini adalah salah satu dasar konseling yang dapat anda lakukan untuk menyelaraskan rasa dalam keluarga demi mencegah depresi anak yang mungkin dapat memperbesar risiko mereka untuk bereksperimen dengan narkoba.

Seorang guru besar terapi keluarga yang cukup berpengaruh di awal abad ini, Virginia Satir, di awal tahun 1930, mengemukakan bahwa perilaku yang terlihat adalah bak puncak dari “gunung es perasaan”.

Lapisan perasaan yang berada di bawah perilaku yang nampak adalah:
1. Perasaan pemicu sebuah perilaku (ketakutan, sakit hati,kesedihan dan lain-lain)
2. Persepsi seseorang terhadap masalah
3. Ekspektasi dari apa yang kita inginkan
4. Jeritan batin terdalam tentang apa yang sebenarnya kita perlukan
5. Pusat diri dalam tingkat spiritual

Berbicara dapat pula dilakukan dengan nonverbal seperti misalnya beraktivitas bersama.

Penelitian di berbagai negara maju menemukan beraktivitas minimal 15 menit setiap hari per anak dapat membawa dampak yang sangat positif terhadap pertumbuhan anak.

Dan pada saat memilih aktivitas bersama ini, biarkan anak anda yang menentukan kegiatan yang mereka sukai. Banyak ahli psikologi percaya bahwa beraktivitas bersama akan menjadi suatu momen yang tak terlupakan dan berharga bagi mereka. Komunikasi yang dilakukan dalam suasana yang kondusif akan lebih efektif berakar dalam diri anak.

3.Pakai pendekatan dengan hati, bukan dengan nalar (User “heart approach”, not “head approach”)Menurut beberapa riset YCAB di Jakarta tahun 2004, anak-anak memberi nilai ‘kurang’ pada orangtuanya di dalam memberikan pengertian tentang bahaya narkoba. Kebanyakan dari mereka mengeluh bahwa orangtua tidak memberitahu mereka akan bahaya narkoba, walaupun kebanyakan orangtua mengatakan bahwa mereka memberitahu anak-anak mereka tentang bahaya narkoba.

“…beraktivitas minimal 15 menit setiap hari per anak membawa dampak yang sangat positif terhadap pertumbuhan anak.”

Dari pembahasan sebelumnya, prinsip komunikasi adalah di saat anda mulai mendengarkan anak anda, anda sebenarnya telah memulai pembicaraan! Kualitas komunikasi ini perlu ditingkatkan; berbicara dengan anak dari hati ke hati membawa arti yang lebih mendalam. Komunikasi dengan pendekatan hati jelas menyentuh kalbu anak.

Komunikasi dengan pendekatan hati.

Berarti mengutamakan perasaan nyaman anak dalam membicarakan sesuatu dengan anda. Ini berarti komunikasi tersebut harus dimulai tanpa prasangka. Hal ini dapat dimulai dengan menanyakan perasaan anak. Biarkan anak anda bicara. Bagaimanakah keseharian mereka? Tanyakan bagaimana perasaan mereka tentang hari-hari mereka. Izinkan anak anda untuk dapat secara terbuka mengekspresikan ide-ide, perasaan, dan kekhawatiran mereka. Yang penting niat anda untuk memahami, untuk menolong, untuk berempati harus dirasakan oleh anak.

Cermati perasaan atau persepsi yang ada di balik kalimat atau bahasa tubuh anak kita.

Perhatikan bahasa tubuhnya karena seorang ahli komunikasi berkata bahwa bahasa tubuh mengomunikasikan rasa atau pendapat sembilan kali lebih tinggi dari kata-kata yang terucap!

Temukanlah waktu dan tempat yang nyaman, seperti waktu di perjalanan berdua dengan anak, bisa juga sewaktu makan bersama atau waktu-waktu lainnya yang memungkinkan. Jika terkadang anak tidak siap bicara, jangan paksa dia bicara. Akan tetapi setiap kali dia datang untuk berbagi rasa, kita harus siap.

Setelah mengambil waktu untuk mendengar dengan saksama dan berbicara kepada anak anda dengan pendekatan dari hati ke hati tersebut, komunikasi memerlukan’investasi’ kepercayaan kepada anak anda.

Tingkat kepercayaan yang anda perlu berikan jelas berbeda. Pemberian kepercayaan lebih untuk meningkatkan self esteem anak; ketika anak memasuki usia remaja, orangtua perlu belajar ‘melepas’ anak untuk mengambil keputusan dalam kehidupannya, kepercayaan ini perlu diberikan secara terkendali.

Sampaikan bahwa jika anak bertanggungjawab atas kepercayaan yang diberikan, maka mereka akan mendapatkan kepercayaan yang lebih besar lagi. Memberikan kepercayaan kepada anak adalah proses untuk mempersiapkan dan melatih mereka untuk menghadapi dunia yang sesungguhnya.
Cetak Halaman Ini++

0 komentar: